❤...¸❤....¸❤
Siapapun tahu, gadis yang
belum pernah dinikahi masih punya sifat-sifat alami seorang wanita.
Penuh rasa malu, manis dalam berbahasa dan bertutur, manja, takut
berbuat khianat, dan tidak pernah ada ikatan perasaan dalam hatinya.
Cinta dari seorang gadis lebih murni karena tidak pernah dibagi dengan
orang lain, kecuali suaminya.
Karena itu, Rasulullah saw.
menganjurkan menikah dengan gadis. “Hendaklah kalian menikah dengan
gadis, karena mereka lebih manis tutur katanya, lebih mudah mempunyai
keturunan, lebih sedikit kamarnya dan lebih mudah menerima yang
sedikit,” begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan
Baihaqi.
Tentang hal ini A’isyah pernah menanyakan langsung ke
Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau turun
di sebuah lembah lalu pada lembah itu ada pohon yang belum pernah
digembalai, dan ada pula pohon yang sudah pernah digembalai; di manakah
engkau akan menggembalakan untamu?” Nabi menjawab, “Pada yang belum
pernah digembalai.” Lalu A’isyah berkata, “Itulah aku.”
Menikahi gadis perawan akan melahirkan cinta yang kuat dan mengukuhkan
pertahanan dan kesucian. Namun, dalam kondisi tertentu menikahi janda
kadang lebih baik daripada menikahi seorang gadis. Ini terjadi pada
kasus seorang sahabat bernama Jabir.
Rasulullah saw. sepulang
dari Perang Dzat al-Riqa bertanya Jabir, “Ya Jabir, apakah engkau sudah
menikah?” Jabir menjawab, “Sudah, ya Rasulullah.” Beliau bertanya,
“Janda atau perawan?” Jabir menjawab, “Janda.” Beliau bersabda, “Kenapa
tidak gadis yang engkau dapat saling mesra bersamanya?” Jabir menjawab,
“Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah gugur di medan Uhud dan
meninggalkan tujuh anak perempuan. Karena itu aku menikahi wanita yang
dapat mengurus mereka.” Nabi bersabda, “Engkau benar, insya Allah.”
Sahabat Ma’qal bin Yasar berkata, “Seorang lelaki datang
menghadap Nabi saw. seraya berkata, “Sesungguhnya aku mendapati seorang
wanita yang baik dan cantik, namun ia tidak bisa melahirkan. Apa
sebaiknya aku menikahinya?” Beliau menjawab, “Jangan.” Selanjutnya ia
pun menghadap Nabi saw. untuk kedua kalinya, dan ternyata Nabi saw.
tetap mencegahnya. Kemudian ia pun datang untuk ketiga kalinya, lalu
Nabi saw. bersabda, “Nikahilah wanita yang banyak anak, karena
sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan
umat-umat lain.” (Abu Dawud dan Nasa’i).
Karena itu, Rasulullah
menegaskan, “Nikahilah wanita-wanita yang subur dan penyayang. Karena
sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian dari umat lain.” (Abu
Daud dan An-Nasa’i)
.
.>>> Menyejukkan pandangan
Rasulullah saw. bersabda, “Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian
tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? (Yaitu) wanita
shalihah adalah wanita yang jika dilihat oleh suaminya menyenangkan,
jika diperintah ia mentaatinya, dan jika suaminya meninggalkannya ia
menjaga diri dan harta suaminya.” (Abu daud dan An-Nasa’i)
“Sesungguhnya sebaik-baik wanitamu adalah yang beranak, besar cintanya,
pemegang rahasia, berjiwa tegar terhadap keluarganya, patuh terhadap
suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat
kepada ucapan dan perintah suaminya dan bila berdua dengan suami dia
pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya serta tidak berlaku seolah
seperti lelaki terhadap suaminya,”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar